Jumat, 01 Februari 2013

Sikap dan Budaya Kerja 5S



Sikap dan Budaya Kerja 5S 

Pengertian
5S adalah kebulatan tekad untuk mengadakan Seiri (ringkas) di tempat kerja, Seiton (rapi), Seiso (resik), Seiketsu (rawat), kondisi yang mantap dan Shitsuke (rajin) memelihara kebiasaan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik.

Arti penting 5 S
Beberapa arti penting 5S adalah:
- Keunggulan manusia abad global
- Pondasi industri/langkah awal menuju kelas dunia
- Menurunkan pemborosan
- Meningkatkan mutu dan produktivitas
- Perbaikan yang berkelanjutan (Kaizen)
- Meningkatkan keselamatan kerja
- Kinerja tim

Akibat dari tidak adanya penerapan 5S adalah:
- Hubungan antara karyawan yang kurang baik
- Penampilan yang loyo
- Absensi yang tinggi
- Tidak ada saran untuk peningkatan kerja
- Gugus mutu tidak berjalan
- Lini kerja penuh dengan barang cacat
- Peralatan kantor dan lokasi kerja yang kotor dan berserakan
- Kecelakaan kerja tinggi
- Kehancuran industri

Beberapa kendala atau kesulitan yang dihadapi dalam penerapan 5S adalah:
- Tidak paham terhadap arti penting 5S
- 5S menginginkan perubahan prilaku, bukan sistem
- Tidak ada semangat kerja keras
- Melupakan yang mudah (kurang meluangkan waktu untuk 5S)
- Terlalu berorientasi hasil
- Tidak ada kerja tim
- Cepat berpuas diri
- Kurang adanya dukungan manajemen

Syarat-syarat yang dibutuhkan dalam implementasi atau penerapan 5S adalah:
- Pemahaman yang utuh dan menyeluruh
- Kegigihan dan kebulatan tekad
- Usaha yang kontinyu dan bertahap
- Dukungan seluruh individu tanpa kecuali
- Keteladanan manajemen
- Kampanye yang efektif

1. Seiri/Ringkas/Pemilahan
Seiri berarti membedakan antara yang diperlukan dan yang tidak diperlukan serta membuang yang tidak diperlukan.

Prinsip dari Seiri yaitu dengan menggunakan manajemen stratifikasi dan menangani sebab masalah.

Langkah-langkah dalam penerapan Seiri adalah:
1. Penjelasan guna penyeragaman pengertian
2. Kegiatan meringkas tempat kerja
3. Pemeriksaan berkala kondisi ringkas di tempat kerja
4. Pelembagaan ringkas dengan sistem piket.

Slogan Seiri ialah: singkirkan barang-barang yang tidak diperlukan di tempat kerja.

Beberapa ciri khas aktivitas dari Seiri yaitu:
- Buang barang yang tidak diperlukan
- Tangani penyebab kotoran dan kebocoran
- Pembersihan ruangan
- Periksa tutup dan daerah bertekanan rendah untuk mencegah kebocoran dan percikan
- Bersihkan daerah di sekitar pabrik
- Atur gudang
- Buang kotoran
- Buang wadah minyak
- Tangani barang yang cacat dan rusak

2. Seiton/Rapi/Penataan
Pengertian Seiton adalah menentukan tata letak yang tertata rapi sehingga kita selalu menemukan barang yang dibutuhkan.

Prinsip dari Seiton adalah penyimpanan fungsional dan menghilangkan waktu untuk mencari barang.

Langkah-langkah dalam penerapan Seiton adalah:
1. Pengelompokan barang
2. Penyiapan tempat
3. Pemberian tanda batas
4. Pemberian tanda pengenal barang (label)
5. Membuat denah/peta penyimpanan

Slogan Seiton ialah: setiap barang yang berada di tempat kerja memiliki tempat yang pasti.

Beberapa ciri khas aktivitas dari Seiton yaitu:
- Setiap barang memiliki tempat khusus
- Menyimpan dan mengambil barang dalam waktu 30 detik
- Standar pengarsipan
- Papan pengumuman yang rapi
- Pengumuman yang mudah dibaca
- Garis lurus dan garis tegak lurus
- Penempatan fungsional untuk material

3. Seiso/Resik/Pembersihan
Seiso bermakna menghilangkan sampah kotoran dan barang asing untuk memperoleh tempat kerja yang lebih bersih. Pembersihan dilakukan dengan cara inspeksi.

Prinsip dari Seiso adalah bahwa pembersihan sebagai pemeriksaan dan tingkat kebersihan.

Langkah-langkah dalam penerapan Seiso adalah:
1. Penyediaan sarana kebersihan
2. Pembersihan tempat kerja
3. Peremajaan tempat kerja
4. Pelestarian Seiso

Slogan Seiso ialah: bersihkan segala sesuatu yang ada di tempat kerja. Membersihkan berarti memeriksa.

Beberapa ciri khas aktivitas dari Seiso yaitu:
- Latihan gerak cepat ketrampilan 5S
- Tanggung jawab individual
- Membuat poembersihan dan pemeriksaan menjadi lebih mudah
- Kampanye bersih berkilau
- Setiap orang adalah penjaga dan pembersih gedung
- Lakukan pemeriksaan kebersihan dan koreksi masalah kecil
- Bersihkan juga tempat yang jarang dibersihkan

4. Seiketsu/Rawat/Pemantapan
Seiketsu berarti memelihara barang dengan teratur, rapi, bersih dan dalam aspek personal serta kaitannya dengan polusi.

Prinsip dari Seiketsu adalah manajemen visual dan pemantapan 5S.

Langkah-langkah dalam penerapan Seiketsu adalah:
1. Penentuan butir kendali
2. Penetapan kondisi tidak wajar
3. Rancangan mekanisme pemantauan
4. Pola tindak lanjut
5. Pemeriksaan berkala/audit

Slogan Seiketsu ialah: setiap orang memperoleh informasi yang dibutuhkannya di tempat kerja tepat waktu.

Beberapa ciri khas aktivitas dari Seiketsu yaitu:
- Tanda benar dan label suhu
- Penandaan pada meteran di daerah berbahaya
- Pemberian petunjuk arah
- Label tanggung jawab
- Label arah membuka dan menutup
- Label voltase, batas
- Pipa yang diberi kode warna dan warna peringatan
- Mencegah keberisikan dan getaran
- Papan petunjuk pemadam kebakaran
- Pengaturan kabel
- Keadaan tembus pandang
- Penempatan tanaman dan jadwal 5S

5. Shitsuke/Rajin/Pembiasaan (Disiplin)
Shitsuke berarti melakukan sesuatu yang benar sebagai kebiasaan.

Prinsip dari Shitsuke adalah pembentukan kebiasaan dan tempat kerja yang mantap.

Langkah-langkah dalam penerapan Shitsuke adalah:
1. Penetapan target bersama
2. Teladan/contoh dari atasan
3. Hubungan karyawan
4. Kesempatan belajar dari karyawan

Slogan Shitsuke ialah: lakukan apa yang harus dilakukan, dan jangan lakukan apa yang tidak boleh dilakukan.

Beberapa ciri khas aktivitas dari Shitsuke yaitu:
- Pembersihan bersama
- Waktu latihan
- Praktek memungut barang
- Mengenakan sepatu pengaman
- Manajemen ruangan umum
- Praktek penanganan keadaan gawat darurat
- Tanggung jawab individu
- Menelpon dan berkomunikasi
- Manual 5S
- Setelah melihat baru percaya
Sampah. Dimana-mana ada sampah. Mulai dari dalam rumah sendiri, sekolah, tempat bekerja sampah di seluruh fasilitas umum dan sosial. Di Jakarta sendiri tidak kurang dari 6400 ton sampah dihasilkan setiap harinya. Sebagian besar disebabkan oleh gaya hidup masyrakatnya yang konsumtif.

Untuk itu pada hari Lingkungan hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2007 ini, WALHI Jakarta memandang penting untuk menyampaikan beberapa hal penting terkait dengan persoalan sampah, antara lain sebagai berikut:

1.    Membuka ruang yang seluas-luasnya bagi publik didalam pembahasan RUU pengelolaan sampah yang menjadi payung hukum bagi persoalan sampah di Indonesia.
2.    Produsen harus bertanggung-jawab terhadap persoalan sampah, sebagai bentuk dari extended producer responsibility yang selama ini banyak diabaikan
3.    Menolak penggunaan teknologi pengelolaan sampah yang tidak ramah lingkungan, seperti teknologi incinerator yang merusak lingkungan dan berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat
4.    Mengajak publik untuk menjadi konsumen yang kritis, dengan memilih produk yang ramah lingkungan dan sesuai dengan kebutuhan konsumen, bukan berdasarkan kehendak produsen.


Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai bagian masyarakat? Kita bisa mengurangi sampah dengan mempromosikan 5R.

REDUCE. Mengurangi volume sampah sebanyak mungkin.
Membeli makanan yang dibutuhkan secukupnya.
Memilih pakaian yang bisa kita pakai beberapa tahun daripada sekedar mengikuti tren dan mode.
Memilih barang dalam botol isi ulang atau kemasan refil sehingga mengurangi sampah.
Mempertimbangkan untuk menyewa barang yang hanya digunakan untuk sementara daripada membelinya.
REUSE. Menggunakan kembali barang sedapat mungkin.
Menjual buku bekas ke toko buku bekas.
Menjual perabot rumah tangga yang sudah tidak digunakan ke penjual barang bekas.
Memberikan barang bekas ke bazar atau pasar loak.
RECYCLE. Mendaur ulang barang yang tidak dapat dipakai kembali menjadi bahan baku lain.
Mengembalikan kemasan seperti botol, kaleng, karton susu ke pusat daur ulang atau perantaranya.
Memberikan koran atau karton bekas ke lembaga amal.
Memberikan baju tua ke badan amal.
Mengubah sampah rumah tangga menjadi kompos.
REFUSE. Menolak membeli barang yang hanya akan berakhir sebagai sampah.
Menolak surat-surat yang diterima dengan memberikan label “SAYA TOLAK” di amplop dan kirimkan kembali, untuk mengurangi sumber daya yang sia-sia.
Menggunakan tisu toilet tanpa core (karton penggulung)
Membawa tas belanja sendiri dan hindari memperbanyak kantong plastik atau kantong kertas.
REPAIR. Memperbaiki barang yang terpakai untuk digunakan lagi.
Mencoba menggunakan furnitur atau barang lain dengan memperbaiki dan mengganti part yang sudah tua.
Menggunakan komputer tua dengan meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan saja.

Tahap 1 – Basic
Tahap 2 – Intermediate
Tahap 3 – Advanced
Persiapan
Pembudayaan 5S yang efektif
Penerapan 5S tingkat lanjut
Merekam keadaan sekarang
Memotret penampilan baru di tempat kerja
Mengevaluasi pabrik yang telah membudayakan 5S
Pengendalian visual di tempat kerja
Mempertahankan keadaan terawat di tempat kerja
Membuat sistem pelatihan yang terstruktur
  • Menciptakan tempat kerja dimana masalah dapat langsung dikenali dan dilakukan tindakan penganggulangan.
  • Mengadakan pameranfoto sebelum dan sesudah dilakukan 5S.
  • Buat slogan 5S (mintakan gagasan dari banyak orang).
  • Mengadakan kontes 5S.
  • Jadilah pimpinan yang dapat memberi kritik membangun dengan berkomitmen terhadap: Tempat kerja, produk, pelatihan.
  • Menganggapi kritik yang ditujukan kepada Anda dengan sungguh-sungguh.
  • Menciptakan sistem dimana perkerjaan dapat terlaksana dengan sendirinya dan cepat.
  • Menciptakan sistem yang tidak mengakibatkan kecacatan.
  • Pencegahan kecerobohan pada keselamatan kerja.
  • Membudayakan 5S.
Pertanyaan lanjutan dari akhir setiap tahap yang dapat dijadikan kriteria untuk melangkah ke tahap selanjutnya adalah sebagai berikut.
  • Akhir Tahap I    : Sudahkah ada perbaikan ?
  • Akhir Tahap II   : Apakah 5S telah membudaya ?
  • Akhir Tahap III  : Sudahkah perusahaan Anda menjadi nomor 1 dalam 5S?

Tahap 1 – Basic
Tahap 2 – Intermediate
Tahap 3 – Advanced
Persiapan
Pembudayaan 5S yang efektif
Penerapan 5S tingkat lanjut
Merekam keadaan sekarang
Memotret penampilan baru di tempat kerja
Mengevaluasi pabrik yang telah membudayakan 5S
Menjadikan tempat kerja yang sudah rapi dan bersih sebagai standar yang harus dijaga
Menstandarkan cara kerja untuk mempertahankan kebersihan dan kerapian
Mencegah penurunan kondisi lingkungan
  • Membuat setiap orang berpartisipasi untuk selalu menerapkan 3S pertama dengan mengingat tiga prinsip TIDAK:
  1. TIDAK ada barang yang tidak diperlukan.
  2. TIDAK berserakan.
  3. TIDAK kotor.
  • Melakukan pemeriksaan terhadap 3S pertama, misalnya dengan checsheet atau form.
  • Membuat standar untuk membuang barang yang tidak diperlukan.
  • Memberi label merah untuk barang yang tidak diperlukan.
  • Membuat sistem pengaturan terhadap barang yang diletakkan tidak sesuai aturan yang berlaku.
  • Melakukan pemeriksaan terhadap 3S pertama, misalnya dengan checsheet atau form.
  • Menerapkan sistem bahwa kebersihan mencerminkan efisiensi.
  • Mencegah kelebihan
  • Mencegah ketidakberaturan.
  • Mencegah debu yang melekat,
  • Mempertahankan standar dan kerapian.
Pertanyaan lanjutan dari akhir setiap tahap yang dapat dijadikan kriteria untuk melangkah ke tahap selanjutnya adalah sebagai berikut.
  • Akhir Tahap I    : Sudahkah ada perbaikan ?
  • Akhir Tahap II   : Apakah 5S telah membudaya ?
  • Akhir Tahap III  : Sudahkah perusahaan Anda menjadi nomor 1 dalam 5S?

Tahap 1 – Basic
Tahap 2 – Intermediate
Tahap 3 – Advanced
Persiapan
Pembudayaan 5S yang efektif
Penerapan 5S tingkat lanjut
Merekam keadaan sekarang
Memotret penampilan baru di tempat kerja
Mengevaluasi pabrik yang telah membudayakan 5S
Mengatur dan menjaga kebersihan harian
Membudayakan kebersihan dan pemeriksaan
Membersihkan tanpa mengotori lagi
  • Menghilangkan semua debu dan kotoran pada tiga kategori luas:
  1. Area penyimpanan
  2. peralatan
  3. lingkungan (lantai, tembok, lampu, dll).
  • Dapat dibuatkan jadwal piket dan peta tanggung jawab.
  • Menentukan jenis, jumlah, dan identitas dan area penyimpanan alat 5S.
  • Membiasakan pemeriksaan sebagai bagian kegiatan sehari-hari, misalnya preventive maintenance.
  • Menentukan prosedur kebersihan dan pemeriksaan.
  • Membuat daftar pemeriksaan yang meliputi seluruh area.
  • Menerapkan pencegahan agar tidak kotor lagi (hilangkan penyebabnya).
  • Menciptakan mesin yang bebas serpihan.
OFFICE DAN NON-OFFICE
  • Membersihkan meja kerja, rak, mesin, komputer, dinding, dsb., dari debu dan kotoran.
  • Meja kerja selalu ditinggalkan dalam keadaan bersih.
  • Menciptakan lingkungan kerja yang selalu bersih.
  • Menyediakan sarana untuk selalu bersih, misalnya ada keset sepatu, tempat sampah.
  • Menciptakan alat/metode kerja untuk menghindari adanya kotoran, misalnya dengan membuat tempat penampung oli agar tidak berceceran.
Pertanyaan lanjutan dari akhir setiap tahap yang dapat dijadikan kriteria untuk melangkah ke tahap selanjutnya adalah sebagai berikut.
  • Akhir Tahap I    : Sudahkah ada perbaikan ?
  • Akhir Tahap II   : Apakah 5S telah membudaya ?
  • Akhir Tahap III  : Sudahkah perusahaan Anda menjadi nomor 1 dalam 5S?

Tahap 1 – Basic
Tahap 2 – Intermediate
Tahap 3 – Advanced
Persiapan
Pembudayaan 5S yang efektif
Penerapan 5S tingkat lanjut
Merekam keadaan sekarang
Memotret penampilan baru di tempat kerja
Mengevaluasi pabrik yang telah membudayakan 5S
Membenahi tempat penyimpanan
Memudahkan penggunaan dan pengembalian barang
Menghindarkan ketidakberaturan
  • Membersihkan bekas tempat barang tidak diperlukan .
  • Menentukan batas area.
  • Menstandarkan tempat penyimpanan :
  1. ada denah yang dicat/digaris (ada standar warna garis)
  2. ada batas jalan keluar masuk misalnya dengan garis putus-putus, arah lalu lintas forklift, tanda bahaya.
  3. ada aturan, misalnya “jangan berjalan di garis kuning (area berbahaya)”.
  4. ada identitas/tanda di setiap area.
  5. Tiga kunci dalam menyusun: a. posisi tetap (tempat), b. barang tetap (identifikasi), c. jumlah tetap (min/max).
  • Memberi identitas barang dan menyusun barang sesuai jenisnya.
  • Membuat garis pembatas untuk lokasi penempatan.
  • Menyusun barang sedemikian hingga untuk mencegah kesalahan pemakaian / pengambilan barang.
  • Membuat jalur produksi (menyusun barang sesuai urutan kerja).
  • Membuat tempat penyimpanan komponen lebih dekat ke jalur produksi.
  • Menyimpan barang dengan memperhatikan tiga prinsip (Mudah Dilihat, Mudah Diambil, Mudah Dikembalikan)
  • Mengubah sikap dari “mengatur” menjadi “mencegah ketidakberaturan”.
  • Mengatur tempat penyimpnan yang berantakan.
  • Menciptakan sistem dimana hanya meliputi barang yang diperlukan dan setiap barang disimpan di tempat khusus.
  • Menciptakan gagasan untuk memudahkan pengembalian.
  • Mengembangkan gagasan meniadakan pengembalian barang.
  • Otomatisasi tempat kerja.
  • Mengurangi jumlah jig dan alat, misalnya baut berkepala untuk menghindari pemakaian kunci inggris.
  • Menyederhanakan proses produksi.
OFFICE
  • Menentukan batas area dengan jelas.
  • Odner disusun sesuai jenisnya.
  • Kabel-kabel komputer/telepon ditata rapi (tidak berseliweran).
  • Tentukan tempat untuk semua dokumen.
  • Menyusun dokumen sesuai jenisnya.
  • Odner dokumen sejenis dalam rak disusun berurutan.
  • Mengatur letak meja kerja sesuai urutan proses (kalau memungkinkan).

NON OFFICE
  • Menentukan batas area dengan jelas.
  • Ada jalur kendaraan, orang, dsb.
  • Setiap part ada identitasnya.
  • Jangan menyusun part secara berlebihan.
  • Menyimpan barang sesuai jenisnya dan diurutkan tanggalnya agar bisa FIFO.
  • Mengatur letak mesin sesuai urutan kerja.
  • Ada area di gudang untuk tempat barang masuk, keluar atau dikembalikan.
  • Menciptakan sistem suplai barang agar tidak ada yang dikembalikan.
  • Menciptakan sistem agar tidak ada barang menumpuk.
Pertanyaan lanjutan dari akhir setiap tahap yang dapat dijadikan kriteria untuk melangkah ke tahap selanjutnya adalah sebagai berikut.
  • Akhir Tahap I    : Sudahkah ada perbaikan ?
  • Akhir Tahap II   : Apakah 5S telah membudaya ?
  • Akhir Tahap III  : Sudahkah perusahaan Anda menjadi nomor 1 dalam 5S?

Tahap 1 – Basic
Tahap 2 – Intermediate
Tahap 3 – Advanced
Persiapan
Pembudayaan 5S yang efektif
Penerapan 5S tingkat lanjut
Merekam keadaan sekarang
Memotret penampilan baru di tempat kerja
Mengevaluasi pabrik yang telah membudayakan 5S
Mensortir barang yang diperlukan dan tidak diperlukan
Mengendalikan tingkat persediaan
Menghindarkan adanya barang yang tidak diperlukan
Membuang barang yang tidak diperlukan
  • Melakukan pemisahan antara barang yang diperlukan dan yang tidak diperlukan
  • Membuang barang yang tidak diperlukan tsb.
  • Mengumpulkan barang yang diperlukan sesuai jenisnya
  • Mengendalikan tingkat persediaan barang minimum dan maksimum
  • Mengurangi persediaan tanpa menganggu produksi
  • Mengadakan sistem patroli untuk mengevaluasi pembuangan barang yang tidak diperlukan
  • Mengendalikan tingkat persediaan pada area temporary dan in-process
  • Menerapkan sistem FIFO
  • Membuat budaya mnsortir sebagai proses yang mendasar
  • Mengubah sikap dari sortir sebagai ‘pencegahan’
  • Membuat sistem tanpa limbah dan sisa.
  • Melakukan kanban pesanan barang.
  • Mengorder sesuai kebutuhan.
  • Perencanaan yang fleksibel.
OFFICE
  • Memisahkan dokumen yang diperlukan dan yang tidak diperlukan.
  • Barang yang tidak diperlukan tidak berada di meja kerja.
  • Buat sistem pengaturan lama penyimpanan dokumen yang diperlukan.
  • Dokumen sejenis tidak perlu disimpan di beberapa bagian.
  • Buat sistem on-line dokumen untuk mengurangi jumlah dokumen yang disimpan.
  • Menyimpan dokumen dalam bentuk softcopy.
NON OFFICE
  • Barang tidak diperlukan tidak diletakkan di area proses.
  • Memisahkan barang fast moving dan slow moving.
  • Mendata dan mengatur stok fast moving dan slow moving.
  • Mendata barang yang perlu distok banyak, sedikit, dsb.
  • Mengatur dan mengeluarkan barang dengan sistem FIFO.
  • Mengatur barang slow moving agar just in time (tidak distok).
  • Mengatur rencana produksi agar tidak menghasilkan produk berlebihan
Pertanyaan lanjutan dari akhir setiap tahap yang dapat dijadikan kriteria untuk melangkah ke tahap selanjutnya adalah sebagai berikut.
  • Akhir Tahap I    : Sudahkah ada perbaikan ?
  • Akhir Tahap II   : Apakah 5S telah membudaya ?
  • Akhir Tahap III  : Sudahkah perusahaan Anda menjadi nomor 1 dalam 5S?
 Penerapan 5S di tempat kerja Wednesday, Sep 3 2008 
 5S adalah suatu metode pemeliharaan lingkungan agar rapi, bersih dan teratur. 5S yang berasal dari bahasa Jepang, seringkali disingkat menjadi 5R dalam bahasa Indonesia, meski ada beberapa perusahaan yang tetap menjadikannya sebagai “5S” dengan bahasa Indonesia.
No.
5S (Jepang)
5S (Indonesia)
Arti
1
Seiri
Sortir / Ringkas
Menyortir atau memisahkan barang yang diperlukan dan yang tidak diperlukan.
2
Seiton
Susun / Rapi
Menyusun barang sesuai tempatnya.
3
Seiso
Sapu / Resik
Membersihkan area kerja.
4
Seiketsu
Standarisasi / Rawat
Menjadikan tempat kerja yang sudah rapi dan bersih sebagai standar yang harus dijaga dan pelihara.
5
Shitsuke
Swadisiplin / Rajin
Menjadikan 5S sebagai disiplin kerja.
Untuk menerapkan konsep 5S, kita harus memusatkan perhatian pada unsur “ Shitsuke ” yang yang menopang ke-4 unsur lainnya. Penanaman unsur “Shitsuke ” merupakan point yang sangat penting.  
Perhatikanlah grafik siklus kontrol di bawah ini. Sangatlah penting bagi siklus kontrol untuk mengalami peningkatan seiring berjalannya waktu. Demikian juga dengan pilar “Shitsuke ” yang harus mengalami peningkatan bersamaan dengan peningkatan kualitas aktivitas 5S. 4S yang terdiri dari “Seiri ”, “Seiton ”, “Seiso ” dan “Seiketsu ” merupakan unsur yang kita terapkan terhadap barang/masalah tertentu sebagai objek. Lain halnya dengan “Shitsuke ” yang merupakan unsur yang diterapkan pada diri kita sendiri. Karena itu, “Shitsuke ” bukan merupakan faktor bawaan alamiah dari dalam diri kita sendiri, melainkan hal yang harus diajarkan agar bisa diterapkan. Oleh karenanya penerapan unsur “Shitsuke ” terhadap  karyawan juga berbeda-beda, disesuaikan dengan sifat, cara berpikir, kemampuan kerja, dan berbagai faktor lain masing-masing orang.  
Perlu diingat bahwa tujuan penerapan 5S adalah untuk menciptakan lingkungan kerja yang efektif dan efisien sehingga dapat mendukung tercapainya hasil kerja yang optimal. Mengingat dasar diatas dan tujuan dari 5S, maka penerapan 5S dapat dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:
5S /  5T
TAHAP I
TAHAP II
TAHAP III
BASIC
INTERMEDIATE
ADVANCED
TAHAP
PERSIAPAN
PEMBUDAYAAN 5S  (5S YANG EFEKTIF)
PENERAPAN 5S TINGKAT LANJUT.
PERSIAPAN
MEREKAM KEADAAN SEKARANG
MEMOTRET PENAMPILAN BARU DI TEMPAT KERJA
MENGEVALUASI  PABRIK YANG TELAH MEMBUDAYAKAN 5S

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar